Vist Thailand 2014

Antara tanggal 19 sampai 22 April 2014 lalu Alhamdullilah saya akhirnya sampai juga di negeri Gajah Putih ini. Sebenarnya pada tahun 1995 silam saya nyaris berangkat bersama isteri, akan tetapi karena ada urusan lain akhir hanya isteri saya saja yang berangkat.

Kepergian saya ke tanah Siam ini dalam rangka menikmati hadiah kemenangan dari PRUDESIRE Agency karena keberhasilan group kami mencapai target yang telah ditentukan pada tahun 2013 silam. Program ini murni ide dari pimpinan PRUDESIRE bapak Suroyo dan ibu Asri. Saya berangkat bersama isteri dan 10 orang anggota lainnya. Oleh karena itu pada kesempatan ini saya ingin mengucapkan terima kasih kepada pak Suroyo dan ibu Asri.


Pada tulisan pertama ini saya ingin mengulas tentang kehebatan pembangunan Thailand. Saya kagum dengan pencapaian pemerintah Thailand dalam membangun negerinya. Sebelumnya saya mengira bahwa pembangunan Thailand tidak akan jauh berbeda dengan Indonesia. Ternyata saya salah, Thailand ternyata sudah jauh lebih maju. Thailand mungkin sejajar dengan Malaysia. Sementara Indonesia masih jauh dibelakang. 

Kemajuan Thailand dapat dirasakan begitu mendarat di Bandar Udara Suvarnabhumi International Airport yang baru saja dioperasikan sejak lima tahun silam. Bandaranya sangat moderen dan canggih. Menampung jutaan penumpang setiap tahun dengan fasilitas eletronik yang lengkap. Bandara ini mungkin sekelas dengan bandara di Pudong, Shanghai, KLIA Sepang Malaysia dan Changi Singapura. 


Kehebatan pembangunan Thaland juga dapat terlihat dari pembangunan jalan raya dan jalan tol yang begitu banyak, panjang dan lebar. Dari bandara Svarnabhumi terdapat jalan tol layang berlapis-lapis membentang saling bersilang begitu panjang mungkin sepanjang 50 km ke dalam kota Bangkok dan ke luar kota Bangkok. Konstruksinya begitu kokoh dan besar. Lebar jalan tol di Thailand minimal 4 lajur ditambah dengan bahu jalan. Bandingkan dengan jalan tol di Indonesia yang hanya terdiri dari tiga jalur saja. 


Ada jalan tol dari Bangkok ke Pattaya di sebelah timur sepanjang sekitar 100 km dengan lebar yang sama sehingga tidak terjadi kemacetan walau begitu banyak kendaraan truk besar melintas. 
Jalan utama di tengah kota Bangkok juga sangat canggih. Hampir semua  dibuat berlapis dua bahkan berlapis tiga. Semua jalan terbuat dari beton kokoh, tidak terlihat ada yang rusak sama sekali. Mereka membangun dengan standard tinggi, bandingkan dengan pembangun di Indonesia. Hampir semua bangunan dengan standard rendah. Meski jumlah kendaraan mobi di Bangkok jauh lebih banyak daripada di Jakarta tapi jalan raya tidak begitu macet. Walau macet, tapi masih dalam bentuk yang wajar yaitu menunggu lampu hijau di perempatan. 
Kota Bangkok sudah sejak lama memiliki jalur kereta Mass Rapid Transportation (MRT), bahkan di beberapa tempat jalur MRT berada di ketinggian berbentuk lapis dua. Sementara Jakarta baru saja memulai pembangunan MRT, yang diperkiraka baru akan selesai tiga tahun lagi. Itupun baru satu jalur. Demikian juga dengan rencana pembangunan 4 jalan tol baru dalam kota Jakarta yang masih belum tahu kapan akan dimulainya.

Pembangunan gedung-gedung tinggi  di Bangkok dan Pattaya sungguh sangat banyak dan tersebar di seluruh bagian kota. Hotel-hotel berbintang, apartemen dan perkantoran mewah dengan mudah dapat diakses dari berbagai sudut kota. 

Salah satu indikasi bahwa Thailand jauh lebih baik ekonominya dari Indonesia adalah dengan melihat kendaraan yang hilir-mudik disana. Tahun lalu ketika Indonesia berhasil melewati jumlah penjualan mobil Thailand yang selama bertahun-tahun menjadi jawara di kawasan ASEAN. Ketua asosiasi otomotif Thailand dengan santai mengatakan 'memang, jumlah penjualan mobil di Indonesia sekarang ini lebih banyak dari Thailand, hal itu disebabkan akibat dari musibah banjir yang melanda negeri kami tahun lalu, selain itu kami tidak begitu khawatir karena spec mobil yang dijual di Indonesia dengan yang di Thailand berbeda" katanya. Waktu membaca berita ini saya tidak mengertik apa yang dimaksud orang dengan ini dengan 'spec". Setelah saya datang, saya baru maklum apa maksudnya. Di Thailand kendaraan paling rendah kapasitasnya adalah 1,500 CC. Kita hampir tidak menjumpai kendaraan seperti Toyota Avanza, Daihatsu Xenia, Suzuki Ertiga dan sejenisnya. Kendaraan orang Thailand minimal adalah Toyota Corolla. Bahkan untuk taxi mereka menggunakan Toyota Corolla Altis dan Innova. Sementara untuk angkot mereka menggunakan kendaraan double cabin seperti Isuzu Dmax, Toyota Hilux, Ford Ranger dan lain-lain. Bandingkan dengan di Indonesia yang menggunakan Daihatsu Zebra dan Suzuki Futura dan lain-lain. 


Selain kemajuan di bidang infrastruktur, Thailand juga sukses membangun industri pertanian dan peternakan. Industri mereka sudah sangat maju. Durian sudah menjadi salah satu komiditas andalan mereka. Durian dieksport ke seluruh dunia, padahal durian ini dulu bukan komiditas ekspor karena hanya disukai oleh orang Melayu saja. Mereka berhasil mengembangkan durian dari buah musiman menjadi buah yang bisa dipanen setiap saat. Bahkan saat ini mereka sedang mengembangkan kopi durian. Kehebatan Thailand di bidang pertanian dan perternakan sudah sejak dulu. Jenis ayam terkenal adalah ayam Bangkok/Siam, Labu Siam, Pepaya Siam. Pokonya segala buah dengan kwalitas bagus rata-rata berasal dari siam. Di Indonesia hampir semua petani mengenal dengan baik nama perusahaan Charon Pokphan (CP). CP adalah perusahaan asal Thaland yang sudah mendunia, mereka mengusai supply bahan baku, bibit dan perdagangan di seluruh dunia. 


Industri pariwisata Thailand sangat maju. Pemerintah dan masyarakat Thailand sudah menjadikan pariwisata sebagai sumber devisa mereka. Puluhan juta turis datang setiap tahun, berlibur dan menghabiskan miliar dollar di negeri gajah putih ini. Semua pelayanan sudah terintegrasi dengan baik. Mulai dari sarana transportasi, akomodasi, objek wisata, program wisata dan sarana komunikasi. Sehingga setiap turis yang datang merasa puas dan ingin kembali lagi. Hampir di setiap bagian kota Bangkok dan Pattaya terlihat rombongan turis dari berbagai bangsa menikmati liburan disana.

Dengan penghasilan perkapita saat ini sekitar USD 11,000/tahun, sementara Indonesia masih di kitaran USD 3,500/tahun. Thailand sudah sangat siap mengusai business di Kawasan ASEAN mulai awal tahun 2015 ini. Mereka akan menguasai industri pertanian, peternakan, pariwisata, otomotif dan lain-lain. Tahun depan akan semakin banyak mobil buatan Thailand yang akan hilir-mudik di jalan-jalan Indonesia. Akan semakin banyak durian monthon di jual di pasar-pasar tradisional, akan semakin sedikit turis asing yang datang ke Indonesia karena mereka sudah puas berlibur di Thailand.

Untuk menghadapi Thailand di pasar bebas ASEAN nanti, diperlukan pemimpin baru yang mampu mengembangkan kemampuan ekonomi Indonesia. Oleh karena itu marilah kita bangsa Indonesia pada PEMILU 2014 ini dengan sungguh-sungguh  memilih pemimpin bangsa yang mempunyai bukti kuat bahwa ia pasti mampu membawa bangsa ini menghadapi pasar bebas ASEAN. Jika tidak, bangsa kita akan tinggal menjadi pembeli di negeri sendiri  dan membiarkan orang-orang dari negeri ASEAN lain berpesta-pora menikmati kekayaan alam Indonesia yang melimpah ini. Membiarkan bangsa kita gigit jari dan kelaparan akibat tidak mampu bersaing. Ayo, jangan salah pilih!

Informasi ini dipersembahkan oleh:


Share on Google Plus

About Muhammad Taufik Arifin

2 comments:

Ayyub Thalib said...

misi saya mautanya itu perahunya naiknya darimana? di daerah apa dan beli tiketnya dimana ? adanya jam berapa aja ? 1 orangnya berapa ? makasih balesnya ke ayyubthalieb@yahoo.com ya makasih banyak atas bantuannya

Taufik Arifin said...

Sori Ayyub, baru balas nih. Naiknya dekat sungai Hotel The PARK dekat Robetson Hotel jalan sedikit... Gampang kok nyarinya. Kalau dari dari Central stasiun MRT jalan kakinya aja ke arah pinggir sungai.. Gitu.. Mudah2an bermanfaat. tks